SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DAN BUDAYA LOKAL

PERADABAN ISLAM PADA MASA KHULAFAUR ROSYIDIN DAN BANI UMAYYAH
Dosen Pengampu : M. Sauki, MA


I.    PENDAHULUAN
Sejarah adalah bagaimana suatu peristiwa itu tercatat ataupun menjadi perbincangan orang banyak sehingga dikenang hingga berkian tahun lamanya, sejarah mengenai kebudayaan islam itu sendiri sangatlah dalam dan luas, kaya akan hikmah yang dapat kita ambil dari berbagai aspek untuk kemudian bisa kita implementasikan dengan kehidupan pada zaman sekarang ini.
Tema besar pada penulisan makalah ini akan lebih banyak menelusuri akar-akar sejarah pada masa Khulafaur Rosyidin dan Bani Umayyah, karena begitu banyak nilai-nilai positif yang dapat kita pelajari dan kita teladani, tak luput pula dalam setiap masa selalu saja ada hal-hal yang dapat kita pelajari dari kesalahan-kesalahan yang terjadi pada masa itu, mulai dari perbedaan pendapat antar sahabat, mulai adanya sistem monarki pada masa Daulah Bani Umayyah dan lain sebagainya, semuanya itu akan kami curahkan dalam penulisan makalah ini.
Namun fenomena yang cukup menyedihkan saat ini, sudah begitu banyak muslimin yang mengadopsi budaya-budaya barat, sehingga lambat laun mereka kurang begitu tahu akan sejarah peradaban islam yang telah membawa kita saat ini kepada zaman yang penuh akan pencerahan.
Tujuan dari penulisan makalah ini, sebagai penambah wawasan keislaman dan membawa nuansa sejarah peradaban islam, kembali menyelimuti jiwa-jiwa kaum muslimin masa kini dan yang akan datang.

II. RUMUSAN MASALAH
1.    Pengertian Khulafaur Rosyidin
2.    Mengetahui Proses Kebijakan Pada Masa Kepemimppinan Khulafaur Rosyidin
3.    Pendirian Dinasti Umayyah
4.    Peradaban Islam Pada Masa Dinasti Bani Umayyah


III. PEMBAHASAN
1. Pengertian Khulafaur Rosyidin
Secara etimologi kata khulafaur rosyidin itu berasal dari bahasa arab yang terdiri dari kata kholifah yang berarti pemimpin, artian pemimpin disini ialah orang yang menggantikan kedudukan rasulullah SAW setelah wafatnya, untuk melindungi agama, tatanan masyarakat dan siasat (politik).
Sedangkan kata arrosyidin itu sendiri berarti arif dan bijaksana. Jadi kesimpulannya Khulafaur Rosyidin mempunyai arti, pemimpin yang arif dan bijaksana sesudah wafatnya nabi Muhammad SAW. Mereka itu terdiri dari sahabat-sahabat nabi Muhammad SAW. Adapun sifat-sifat yang dimiliki Khulafaur Risyidin ialah sebagai berikut :
1.    Arief dan Bijaksana
2.    Mempunyai ilmu yang luas dan mendalam
3.    Berani bertindak
4.    Berkemauan keras
5.    Berwibawa
6.    Belas kasih dan kasih sayang
7.    Berilmu agama yang sangat luat serta melaksanakan hukumnya.
Para sahabat yang mendapat gelar Khulafaur Rosyidin terdiri dari empat orang kholifah, yaitu :
1.    Abu Bakar Ash-Shiddiq
2.    Umar Bin Khotthob
3.    Utsman Bin Affan
4.    Ali Bin Abi Tholib
Adapun tugas-tugas sebagai khulafaur rosyidin ialah sebagai berikut :
Nabi Muhammad SAW. Ketika menjadi nabi, tugas beliau adalah meliputi dua hal, yang pertama ialah tugas kenabian dan yang kedua ialah tugas kenegaraan. Dan dalam konteks ini tugas para kholifah ialah hanya menggantikan rasulullah dalam tugas kenegaraan, yaitu sebagai kepala negara, kepala pemerintahan dan pemimpin ummat. Sedangkan tugas rasulullah sebagai nabi dan rosul itu tidak digantikan oleh siapapun, karena tugas kenabian yang diemban oeh beliau ialah tugas khusus yang diamanahkan dari Allah SWT. Di samping iu pua, karena nabi muhammad SAW, ialah nabi akhir zaman, nabi dan rosul yang diutus oleh Allah SWT sebagai penutup para nabi-nabi sebelumnya, maka tidak akan ada nabi atau rosul yang diutus setelah wafatnya beliau. Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT Q.S Al-Ahzab : 40.
Ù…َاكَانَ Ù…ُØ­َÙ…َّدّ ُاَبَاَﺃحَدٍ Ù…ِÙ†ْ رِﺟﺎ Ù„ِÙƒُÙ… ْÙˆَÙ„َÙƒِÙ†ْ رَسُولَ الَّلهِ ÙˆَØ®َا تَÙ…َ النَّبِÙŠِينَ ÙˆَÙƒَا َÙ†َ الَّلهُ بِÙƒُÙ„ ِّØ´َÙŠْØ¡ٍعَÙ„ِÙ…َ
Artinya:
“ Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia rasulullah dan penutup Nabi-nabi, dan adalah allah adalah maha mengetahui segala sesuatu.”
A.   Kholifah Abu Bakar Ash-Shiddiq
1.    Silsilah dan Kepribadian Abu Bakar Ash-Shiddiq
Nama lengkap dari Abu Bakar ialah Abdulah bin Utsman bin Amir bin Umar bin Ka’ab bin Tiim bin Mairoh at-Tamimi. Sebelum masuk Islam, nama kecil Abu Bakar ialah Abdul Ka’bah. Dan gekar Abu Bakar itu pemberian dari rasulullah, karena beliau segera masuk Islam. Dan juga mendapat gelar As-Shiddiq (yang membenarkan).
Abu Bakar lahir pada tahun 573 M, dua tahun setelah penyerbuan pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah yang dipimpin oleh Abrahah dari Yaman. Dengan demikian baliau dua tahun lebih muda dari nabi Muhammad SAW. Karena Nabi lahir pada tahun gajah, yaitu 571 M.
Perihal perawakan Abu Bakar, menurut riwayat putrinya, Siti Aisyah (Ummul Mukminin) bahwa kulitnya putih, badannya kurus, pipinya tipis, mukanya kurus, matanya cekung, dan keningnya menjorok ke depan. Perihal akhlaqnya, menurut Ibnu Hisyam beliau terkenal sebagai seorang pemurah, peramah, pandai bergaul dan suka menolong. Abu Bakar juga mempunyai sifat sabar, berani, tegas, dan bijaksana. Karena kesabarannya banyak sahabat masuk Islam karena ajakannya, seperti: Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdullah bin Mas’ud dan Arqom bin Abil Arqom.
2.    Proses Pembai’atan Sebagai Kholifah
Sebelum Rasulullah meninggal dunia, beliau tidak berwasiat siapa yang akan menggantikannya sebagai pemimpin umat islam. Hanya saja sebelum beliau wafat, beliau sempat menyyuruh Abu Bakar untuk menggantikan imam sholat yang biasanya beliau lakukan. Karena tidak adanya wasiat dari rasulullah, hal ini menjadi kesibukan tersendiri bagi para sahabat dan umat muslim saat itu untuk mencari siapa pengganti yang tepat Rasulullah. Karenanya sebelum terpilihnya abu Bakar sebagai kholifah, sempat terjadi kontraversi diantara kelompok-kelompok umat muslim terutama dari kalangan anshor dan muhajjirin untuk menentukan siapa yang pantas memimpin mereka.
Abu Bakar dibai’at sebagai khalifah pertama pada tahun 11 H atau 632 M, setelah ada kesepakatan antara kaum muhajirin dan anshar untuk membai’atnya, Abu Bakar kemudian berpidato sebagai berikuat:
“Wahai manusia! Saya telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik diantara kalian, maka jika aku menjalankan tugasku denga baik, ikutilah aku. Tetapi jika aku berbuat salah maka luruskanlah, hendaklah kamu taat kepadaku selama aku taat kepada Allah dan rasulnya. Tetapi apabila aku tidak taat kepada Allah dan rasulnya maka kalian tidak perlu menaatiku.
3.    Langka-laangkah dan Kebijakan Abu Bakar
a.    Menumpas nabi palsu
Pada saat rasulullah sudah wafat dan kepemimpinan diamanahkan kepada kholifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, mulai muncul beberapa orang yang mengaku dirinya adalah nabi setelah nabi Muhammad SAW. Padahal dalam islam sudah diajarkan, bahwasanya tiada nabi setelah nabi Muhammad SAW, karena beliau adalah nabi akhir zaman, nabi penutu dari para nabi sebelumnya. Dan beberapa orang-orang yang mengaku nabi itu ialah Musailamah Al-Kadzab dari bani hanifan di Yamamah, Sajah Tamimiyah dari bani tamim, Al-Awsad Al-Anshi dari yaman dan Tulaihah bin Khuwailid dari bani asad di Nejed. Dengan adanya beberapa orang yang mengaku nabi ini, sungguh sangat akan membahayakan bagi agama islam dan bai para pemeluknya. Karenanya kholifah Abu Bakkar menugaskan beberapa pasukan yang dipimpin oleh Kholid bin Walid untuk menumpas nabi palsu tersebut beserta pengikut-pengikutnya. Dan akhirnya upaya penumpasan itu pun berhasil dengan sangat gemilang. Musailamah dibunuh oleh Wasyi, Al-Awsad dibunuh oleh istrinya sendiri, sedangkan Tulaihah dan Sajad melarikan diri dan bersembunyi.
b.    Memberantas kaum murtad
Berita wafatnya rasulullah SWA, berakibat menggoyahkan iman umat muslim yang pada saat itu masih lemah imannya, begitu banyak di antara mereka yang menyatakan dirinya keluar dari agama islam (murtad). Mereka tidak mau lagi sholat, membayar zakat. Lantas dari kejadian tersebut Abu Bakar beserta para sahabat yang lain bermusyawarah untuk menangani masalah tersebut, jika tidak bisa ditangani dengan lemah lembut, maka akan ditindak dengan tegas. Abu Bakar mengirim ekspedisi dibawah pimpinan Ikhrimah bin Abu Jahal, Syurahbil bin Hasnah, Amru bin Ash, dan khalid bin Walid. Tindakan tegas kaum muslimiin itu dapat melumpuhkan kekuatan kaum murtad, sehingga mereka kembali mentaati perintah syariat Islam. Abu Bakar berhasil dalam usaha ini, sehingga wilayah Islam utuh kembali.


c.    Menghadapi kaum yang ingkar zakat
Pada masa itu masih banyak juga kaum muslimin yang tingkat keimanannya masih tipis, sehingga mereka banyak yang salah memahami arti dari membayar zakat itu sendiri, mereka beranggapan bahwasanya membayar zakat itu hanya untuk nabi, lantas ketika nabi telah wafat, gugurlah kewajiban mereka untuk mengeluarkan zakat. Kemudian kholifah Abu Bakar kembali bermusyawarah dengan para sahabat untuk menghadapi orang-orang yang ingkar zakat tersebut, meskipun ada beberapa sahabat yang berpendapat untuk membiarkan saja hal itu terjadi, namun Abu Bakar tetap bersikap bulat menyatakan bahwasanya kewajiban zakat tetap harus dilaksanakan dan mereka yang membangkang harus diperangi. Awalnya Abu Bakar memperingatkan mereka secara halus, yakni mengirimi mereka surat untuk kembali kepada jalan islam yangsudah ditetapkan, akan tetapi mereka tetap membangkan dan akhirnya Abu Bakar mengirim pasukan untuk memerangi mereka yang ingkar membayar zakat. Dalam waktu yang relatif singkat pasukan Abu Bakar telah berhasil memerangi kaum pembangkang dengan gemilang.
Kemudian dengan berhasilnya kaum muslimin ini dalam memerangi kaum pembangkan, keadaan negeri arab kembali tenang, keadaan agama islam kembali lurus dam umat islam pun kembali hidup damai dalam naungan agamanya. Seluruh kabila-kabilah kembali taat untuk mengeluarkan zakat sebagaimana pada zaman rasulullah.
d.    Mengumpulkan ayat-ayat al-qur’an
Akibata banyaknya peperangan yang dialami oleh kaum muslimim, banyak dari kalangan sahabat yang hafal al-qur’an berguguran. Dari kejadian ini menjadi kekhawatiran bagi umat islam dan kecemasan dalam hati Umar bin Khotthob akan kehilangan ayat-ayat suci al-qur’an itu. Maka kemudian kecemasan itu Umar nasehatkan kepada kholifah Abu Bakar untuk segera mengumpulkan ayat-ayat al-qur’an.
Atas saran dari Umar bin Khotthob ini kemudian pada awal 13 H Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan ayat-ayat al-qu’an menjadi mushaf, mengingat dahulu masih berserakan didalam dada para penghafal, tertulis dalam batu-batu, pelepah-pelepah pohon, kain dan lain sebagainya.
4.    Wafatnya kholifah Abu Bakar
Pada saat pertempuran di Ajnadain negeri syam berlangsung, khalifah Abu Bakar menderita sakit. sebelum wafat, beliau telah berwasiat kepada para sahabatnya, bahwa khalifah pengganti setelah dirinya adalah Umar bin Khattab. hal ini dilakukan guna menghindari perpecahan diantara kaum muslimin.
Beberapa saat setelah Abu Bakar wafat, para sahabat langsung mengadakan musyawarah untuk menentukan khalifah selanjutnya. telah disepakati dengan bulat oleh umat Islam bahwa Umar bin Khattab yang menjabat sebagai khalifah kedua setelah Abu Bakar. piagam penetapan itu ditulis sendiri oleh Abu Bakar sebelum wafat. Setelah pemerintahan 2 tahun 3 bulan 10 hari (11 – 13 / 632 – 634 M), khalifah Abu Bakar wafat pada tanggal 21 jumadil Akhir tahun 13 H / 22 Agustus 634 Masehi.

B.   Kholifah Umar bin Khothob
1.    Silsilah dan kepribadian kholifah Umar bin Khotthob
Umar bin khattab lahir di Mekkah pada tahun 583 M, dua belas tahun lebih muda dari Rasulullah, ayahnya bernama Khattab bin Nufail bin Abd Uzza bin Riah bin Abdullah bin Qurth bin Rizal bin Abd bin Kaab bin Luayyah. Sedangkan ibunya bernama Khattamah binti Hisyam bin Mughiroh Al Makhzumi.
Umar juga termasuk kelurga dari keturunan Bani Suku Ady (Bani Ady). Suku yang sangat terpandang dan berkedudukan tinggi dikalangan orang-orang Qurais sebelum Islam.
Umar memiliki postur tubuh yang tegap dan kuat, wataknya keras, pemberani dan tidak mengenal gentar, pandai berkelahi, siapapun musuh yang berhadapan dengannya akan bertekuk lutut. Ia memiliki kecerdasan yang luar biasa, mampu memperkirakan hal-hal yang akan terjadi dimasa yang akan datang, tutur bahasanya halus dan bicaranya fasih. Beberapa keunggulan yang dimiliki Umar, membuat kedudukannya semakin dihormati dikalangan masyarakat Arab, sehingga kaum Qurais memberi gelar ”Singa padang pasir”, dan karena kecerdasan dan kecepatan dalam berfikirnya, ia dijuluki ”Abu Faiz”.
Itulah sebabnya pada saat-saat awal penyiaran Islam, Rasulullah SAW bedoa kepada Allah, ”Allahumma Aizzul Islam bi Umaraini” artinya: ”Ya Allah, kuatkanlah Agama Islam dengan salah satu dari dua Umar” yang dimaksud dua Umar oleh Rasulullah SAW adalah Umar bin Khattab dan Amr bin Hisyam (nama asli Abu Jahal).
2.    Proses pembai’atan sebagai kholifah
Ketika Abu Bakar merasa dirinya sudah tua dan ajalnya sudah dekat, yang terlintas difikirannya adalah siapa yang akan menggantikannya sebagai khalifah kelak. Abu Bakar minta pendapat kepada para tokoh sahabat seperti Utsman bin Affan, Ali bin Abithalib, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Usaid bin Khudur. Mereka menyetujui usulan Abu Bakar bahwa Umar bin Khattab akan diangkat sebagai penggantinya. Setelah Abu Bakar wafat, para sahabat membai’at Umar sebagai khalifah.
3.    Langkah-langkah dan kebijakan Umar bin Khotthob
Usaha Umar bin Khotthob lebih luas dibandingkan dengan usaha yang teah dilakukan oleh kholifah Abu Bakar, karena memang selain melanjutkan ekspansi dan penyiaran islam ke syiria dan persia yang diteruskan ke mesir. Pada masa kholifah Umar pun, sudah mulai dibentuk dewan-dewan pemerintahan yang mengatur tatanan masyarakat. Dengan demikian kekholifahan Umar lebih maju dibandingkan dengan keempat kholifah yang lainnya. Pada masa kholifah Umar bin Khotthob pun menejemen Baitul Mal kemali dipulihkan dan memiliki menejemen yang baik untuk kebutuhan masyarakat islam.
4.    Wafatnya Khoifah Umar bin Khotthob
Umar bin Khattab adalah profil seorang pemimpin yang suksek dan sahabat rasulullah yang sejati. Kesuksesannya dalam mengibarkan panji-panji Islam mengundang rasa dengki di hati orang yang memusuhinya, salah satunya adalah Abu Lu’luah.
Abu Lu’luah berhasil membunuh Khalifah Umar ketika beliau siap-siap memulai shalat subuh. Abu Lu’luah merasa dendam kepada Umar karena beliau dianggap sebagai penyebab lennyapnya kerajaan persia di muka bumi. Abu Lu’luah adalah seorang dari bangsa persia. Khalifah Umar pulang ke rahmatullah pada tanggal 26 Dzul Hijjah 23 H/3 November 644 M dalam usia 63 tahun. Beliau memegang amanat sebagai khalifah selama 10 tahun 6 bulan (13-23 H=634-644 M). Atas persetujuan Siti Aisyah istri rasulullah Jenazah beliau dimakamkan berjajar dengan makam Rasulullah dan makam Abu Bakar. Demikianlah riwayat seorang khalifah yang bijaksana itu dengan meninggalkan jasa-jasa besar yang wajib kita lanjutkan.

C.   Kholifah Utsman bin Affan
1.    Silsilah dan kepribadian Utsman bin affan
Utsman bin dilahirkan 5 tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Yaitu pada 576 M di kota thoif, kota yang palinga subur di antara kota–kota lainnya di tanah hijaz. Utsman seorang saudagar yang berhasil karena tekun lemah lembut dan pemurah. Sejak usia belia dia sudah berniaga ke Negeri syam, daerah jajahan Romawi. Keahliannya berdagang berkat didikan ayahnya sendiri, sehingga menjadi seorang saudagar kaya.
Setelah menginjak dewasa, Utsman menjadi saudagar yang kaya, dermawan, berbudi luhur, bersikap jujur, dan teguh hati serta berprasangka halus. Dengan pribadi yang demikian Utsman termasuk orang yang mempunyai kedudukan yang terhormat di dalam kaum Quraisy.
Sifat mulia Utsman meningkat setelah ia memeluk agama Islam. Sewaktu nabi kekurangan dana dalam perang tabuk (9H=631M) melawan pasukan Byzantium (Romawi timur) Abu Bakar menyerahkan seluruh hartanya (40.000 dirham), Umar bin Khattab menyerahkan separuh hartanya, Asmi bin Abdi menyumbangkan 70 goni kurma, Utsman bin Affan menanggung 1/3 dari keseluruhan biaya pasukan besar itu dengan menyerahkan 90 ekor kuda, serta uang tunai 1.000 dinar = 10.000 dirham.
2.    Proses pembai’atan sebagai kholifah
Sebelum khalifah Umar wafat, beliau sempat berwasiat dan menunjuk tim yang terdiri dari 6 orang sahabat terkemuka, sekaligus telah dijamin nabi masuk surga, sebagai calon ganti kekhalifaannya.
Keenam orang tersebut adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqos. Kepada tim, Umar menganjurkan agar putranya, Abdullah bin Umar ikut sebagai peserta musyawarah dan tidak boleh dipilih menjadi khalifah. Awalnya hasil musyawarah yang diketuai oleh Abdurrahman bin Auf menunjukkan bahwa suara pada posisi seimbang, antara Ali dan Utsman. Karena Utsman lebih tua, Abdurrahman menetapkan Utsman bin Affan sebagai khalifah.
Ketetapan itu disetujui oleh anggota tim dengan berbagai pertimbangan yang matang. Disamping Utsman sebagai salah seorang sahabat yang terdekat dengan Nabi, beliau juga seorang Assabiqunal Awwalun yang terkenal kaya dan dermawan, jiwa dan hartanya dikorbankan demi kejayaan Islam. Utsman bin Affan dibaiat sebagai khalifah pada tahun 23 H/644 M.

3.    Langkah-langkan dan kebijakan Utsman bin Affan
Pada masa Utsman terjadi perluasan wilayah kekuasaan Islam sampai pada wilayah Afrika. Asia dan Eropa. Kaum muslimin terpencar ke wilayah-wilayah kekuasaan Islam tersebut. Karena mereka berasal dari berbagai bangsa yang berbeda, maka sering terjadi perbedaan dalam membaca Al-Qur’an, keadaan ini mendorong perlunya satu jenis Al-Qur’an yang dijadikan pedoman untuk semua kaum muslimin. Untuk maksud tersebut Khalifah Utsman akan membukukan dan menggandakan Al-Qur’an. Lembaran-lembaran ayat Al-Qur’an yang telah dikumpulakan pada masa Abu Bakar dan disimpan oleh Hafsah, diminta oleh Utsman. Ia kemudian membentuk panitia penulisan kembali ayat Al-Qur’an, yang terdiri dari Zaid bin Tsabit sebagai ketua, dengan anggota: Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits.
Tugas panitia ini adalah menyalin kembali lembaran-lembaran buku Al-Qur’an yang telah telah menjadi buku ini disebut Al-Mushaf. Panitia menggandakan sebanyak 5 buah. Empat diantaranya dikirim ke Mekkah, Syiria, Basrah, dan Kufah. Sedang satu buah ditinggal di Madinah, yang disebut Mushaf Utsmani atau Mushah Al-Imami.
4.    Wafatnya kholifah Utsman bin Affan
Khalifah Utsman bin Affan banyak mengambil keluarganya dari kalangan bani Umayyah untuk menduduki pemerintahan. Pengawasan pada pejabat yang kurang. Khalifah Utsman umurnya telah lanjut, sehingga pengaturan pemerintahan hanya dilakukan oleh pembantu-pembantu dekat dan familinya sendiri.
Keluhan masyarakat tidak disampaikan kepada Khalifah. Keadaan ini menimbulkan keresahan dan protes dari masyarakat Mesir dan Kufah. Mereka datang ke Madinah untuk menyampaikan protes mereka. Sebagian masyarakat Madinah juga ikut bergabung dengan mereka, karena kurang mendapat perhatian yang memuaskan, protes itu berubah menjadi pemberontakan.
Suasana yang panas ini dimanfaatkan oleh Abdullah bin Saba’ (munafiq Yahudi) untuk meniupkan fitnah dan mengobarkan permusuhan dikalangan umat Islam. Ahirnya Hamran bin Sadan Asy Syaqie menyelinap ke ruang khusus rumah Utsman. Kemudian  menikamnya dari belakang, ketika Usman sedang berpuasa dan tengah menela’ah kandungan isi Al-Qur’an.
Peristiwa itu terjadi pada 18 Dzulhijjah 34 H (656 M). Utsman menjadi khalifah selama 12 tahun, dan wafat dalam usia 82 tahun. Sifatnya yang lemah lembut dan berhati sosial telah meninggalkan jasa yang tidak sedikit untuk kepentingan Islam.

D.   Kholifah Ali bin Abi Tholib
1.    Silsilah dan kepribadian Ali bin Abi Tholib
Ali bin Abi Tholib lahir pada tahun 603 M di samping ka’bah kota Mekkah, lebih muda 32 tahun dari Nabi Muhammad SAW. Ali termasuk keturunan Bani Hasyim.
Abu Tholib memberi nama Ali dengan Haidarah, mengenang kakeknya yang bernama Asad. Haidarah dan Asad dalam Bahasa Arab artinya singa. Sedang Nabi Muhammad memberi nama “ALI” yang menakutkan musuh-musuhnya. Pada usia 6 tahun, Ali bin Abi Tholib diasuh oleh Nabi Muhammad sebagaimana Nabi diasuh oleh ayahnya, Abu tholib. Karena mendapat didikan dan asuhan langsung dari Nabi Muhammad SAW, maka Ali tumbuh sebagai anak yang berbudi luhur, cerdik, pemberani, pintar dalam berbicara dan berpengetahuan luas.
2.    Proses pembai’atan sebagai kholifah
Setelah wafatnya Utsman bin Affan, keadaan tetap menegangkan. Kelompok-kelompok masih berkeliaran di Madinah. Para pemuda menghendaki agar Ali segera menggantinya, namun dengan sopan Ali menolak permintaan itu. Ali menganggap bahwa pengangkatan khalifah adalah masalah yang sangat penting karena itu, masalah ini memerluakn dukungan para sahabat yang dahulu berjuang bersama Nabi SAW dalam perang badar. Ali menyatakan: “Mana pahlawan Badar seperti Zubair bin Awwan, Tholhah bin Ubaidillah dan Sa’ad.” Mendengar hal itu kaum muslimin mengajak Zubair, Thalhah dan Sa’ad bersama-sama membaiat Ali bin Abi Tholib sebagai khalifah. Awalnya mereka tidak setuju dengan pembai’atan tersebut, namun pada akhirnya mereka mau memba’at Ali sebagai kholifah dan terjadilah pembai’atan Ali sebagai khalifah bagi umat Islam.
3.    Langkah-langkah dan kebijakan Ali bin Abi Tholib
Dalam periode khalifah Abu Bakar dan Umar, kehidupan masyarakat masih dalam taraf kesederhanaan seperti periode Nabi Muhammad SAW. Rakyat masih bersatu padu dan kokoh dibawah ikatan tali persaudaraan Islam. Mereka selalu kompak dalam semangat jihad yang ikhlas demi kelulusan agama Islam. Keadaan ini mulai berubah sejak periode Khalifah Utsman bin Affan. Mereka mulai terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat duniawi, apalagi saat gubernur yang diangkat Khalifah Utsman banyak yang tidak mampu memimpin umat dan tidak disenangi masyarakat. Oleh karena itu khalifah Ali bin Abi Tholib menanggung beban yang berat dalam memimpin kaum muslimin dengan wilayah kekuasaan yang semakin meluas. Akhirnya tanah yang dahulu diberikan cuma-Cuma pada masa Utsman diambil kembali oleh kholifah Ali bin Abi Tholib, selain itu ada pergantian para gubernur yang dahulu banyak diduduki oleh famili dari Utsman.
4.    Wafatnya kholifah Ali bin Abi Tholib
Kaum Khawarij tidak lagi mempercayai kebenaran pemimpin-pemimpin Isalam, dan mereka berpendapat bahwa pangkal kekacauan Islam pada saat itu adalah karena adanya 3 orang imam, yaitu Ali, Muawiyah dan Amr. Kemudian kaum Khawarij membulatkan tekadnya, “tiga orang imam itu harus dibunuh dalam satu saat, bila hal itu tercapai umat Islam akan bersatu kembali”. Demikian tekad mereka. “Saya membunuh Ali”, kata Abdurrahman bin Muljam, “Saya membunuh Muawiyah”, sambut Barak bin Abdullah Attamimi, “Dan saya membunuh Amr”, demikian kesanggupan Amr bin Bakr Attamimi. Mereka bersumpah akan melaksanakan pembunuhan pada tanggal 17 Ramadhan 40 H/24 Januari 661 M diwaktu subuh. Di antara tiga orang Khawarij tiu. Hanya Ibnu Muljam yang berhasil membunuh Ali ketika beliau sedang sholat Subuh di Masjid Kufah tetapi Ibnu Muljam pun tertangkap dan juga dibunuh.
Barak menikam Muawiyah mengenai punggungnya, ketika Muawiyah sedang sholat Subuh di Masjid Damaskus. Sedang Amr bin Bakr berhasil membunuh wakil imam Amr bin Ash ketika ia sedang sholat Subuh di masjid Fusthat Mesir. Amr bin sendiri tidak mengimami sholat, sedang sakit perut di rumah kediamannya sehingga ia selamat.
Khalifah Ali wafat dalam usia 58 tahun, kemudian Hasan bin Ali dinobatkan menjadi Khalifah yang berkedudukan di Kufah.

2.    Dinasti Bani Umayyah
A.   Awal pendirian dinasti bani Umayyah
Proses awal berdirinya dinasti bani Umayyah ialah ketika wafatnya kholifah Utsman bin Affan yang terbunuh karena ditikam oleh Huran bin Sudan, hal ini terjadi karena kholifah Utsman bin Affan dianggap telah berlaku nepotisme dalam menjalankan tugas kekholifahan.
Lalu kemudian dengan wafatnya kholifah Utsman bin Affan ini para sahabat yang telah bermusyawarah mendatangi Ali bin Abi Tholib untuk meminta dirinya menjadi kholifah pengganti Utsman, setelah dipertimbangkan dengan matang-matang akhirnya Ali bin Abi Tholib pun menyetujui permintaan itu. Namun disaat-saat pembaiatan Ali bin Abi Tholib menjadi kholifah, ada sahabat yang tidak menerima dan mau membai’at Ali bin Abi Tholib sebagai kholifah, ia adalah Muawiyah binAbi Sufyan. Muawiyah beranggapan bahwasanya ingin menuntaskan sebab kematian kholifah Utsman terlebih dahulu, begitu pula dengan Aisyah bin Abu Bakar, istri rasulullah inginnya menyelesaikan perihal terbunuhnya Utsman bin Affan.
Namun pembaiatan itu tetap dilaksanakan, hingga pada akhirnya golongan kaum bani umayyah yang di bawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan datang sebagai pembrontak kekholifahan Ali bin Abi Tholib. Kemudian setelah wafatnya Ali bin Abi Tholib yang dibunuh oleh Abdurahman bin Muljam salah seorang dari golongan khowarij. Atas kejadian ini menimbulkan dampak politii yang cukup kuat dikalangan umat islam, khususnya bagi mereka yang setia terhadap Ali atau yang sering disebut kaum syi’ah, langsung membaiat Hasan putra Ali untuk menjadi kholifah sebagai pengganti ayahnya. Proses pembaiatan ini di saksikan oleh 40.000 orang, orang yang pertama kali mengangkat sumpah setia adalah  Qays bin Sa’ad, kemudian diikuti oleh umat islam pendukung setia Ali bi Abi Tholib lainnya.
Namun pengangkatan Hasan ini tetap saja tidak mendapatkan pengakuan dari Muawiyah bin Abi Sufyan dan para pendukungnya. Dimana Muawiyah yang pada saat itu menjadi gubernur di Damaskus juga menobatkan dirinya sebagai kholifah. Hal ini disebabkan karena sejak lama Muawiyah berambisi untuk bisa mempunyai kedudukan tertinggi dalam dunia islam. Namun karena Hasan adalah sosok yang lembut dan lemah dalam hal politik, ia hanya tidak begitu ambisius untuk menjadi pimpinan tertinggi umat islam, ia hanya menginginkan persatuan umat islam. Hal ini dimanfaatkan oleh Muawiyah untuk mempengaruhi umat supaya tidak melakukan baiat terhadap Hasan bin Ali. Seingga banyak terjadi pembrontakan-pembrontakan yang didalangi oleh Muawiyah. Oleh karena itu Hasan melakukan kesepakatan damai dengan golongan Muawiyah dan menyerahkan kekuasaannya pada Muawwiah bin Abi Sufyan pada bulan Rabiul Awwal 41 H./661 M. Tahun kesepakatan antara Hasan dan Muawiyah ini disebut Aam Jama’ah karena umat muslim sepakat untuk memilih satu pemimpin saja, yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan.
Dalam kondisi yang sanagat kacau itu, kholifah Hasan tidak mempunyai pilihan lain selain untuk bermusyawarah dengan pihak Muawiyah dan menyerahkan segala kekuasaannya, namun dengan syarat sebagai berikut :
1.    Muawiyah menyerahkan harat Baitul mal kepadanya untuk melunasi hutang-hutangnya kepada pihak lain.
2.    Muawiyah tak lagi melakukan cacian dan hinaan terhadap khalifah Ali bin Abi Thalib beserta keluarganya.
3.    Muawiyah menyerahkan pajak bumi dari Persia dan daerah dari Bijinad kepada Hasan setiap tahun.
4.    Setelah Muawiyah berkuasa nanti, maka masalah kepemimpinan (kekhalifahan) harus diserahkan kepada umat Islam untuk melakukan pemilihan kembali pemimpin umat Islam.
5.    Muawiyah tidak boleh menarik sesuatupun dari penduduk Madinah, Hijaz, dan Irak. Karena hal itu telah menjadi kebijakan khalifah Ali bin Abi Thalib sebelumnya.
Dengan demikian berdirilah dinasti baru yaitu Dinasti Bani Umayyah (661-750 M) yang mengubah gaya kepemimpinannya dengan cara meniru gaya kepemimpinan raja-raja Persia dan Romawi berupa peralihan kekuasaan kepada anak-anaknya secara turun temurun (Monarchi). Keadaan ini yang menandai berakhirnya sistem pemerintahan khalifah yang didasari asas “demokrasi” untuk menentukan pemimpin umat Islam yang menjadi pilihan mereka. Pada masa kekuasaan Bani umayyah ibukota Negara dipindahkan Muawiyah dari Madinah ke Damaskus, tempat Ia berkuasa Sebagai gubernur Sebelumnya.
B.   Kebijakan-kebijakan pada masa dinasti bani Umayyah
Gaya dan corak kepemimpinan yang dilakukan oleh bani umayyah sangat berbeda sekali dengan gaya para khulafaur rosyidin saat menjadi kholifah umat muslim, gaya kepemiminan bani umayyah dalam memimpin pemerintahan mengguakan sistem Monarchi Heredities, sedangkan saat pemerintahan khulafaur rosyidin masih menggunakan sistem demokrasi.
Pada masa bani umayyah pun posisi Baitul Mal yang biasanya digunakan untuk kepentingan rakyat, pada saat itu digunakan untuk kepentingan keluarga raja.
Adapun kebijakan-kebijakan pada masa dinasti bani umayyah ialah sebagai berikut :
Dinasti Umayyah telah mampu membentuk perdaban yang kontemporer dimasanya, baik dalam tatanan sosial, politik, ekonomi dan teknologi. Berikut Prestasi bagi peradaban Islam dimasa kekuasaan Bani Umayah didalam pembangunan berbagai bidang antara lain:
·         Masa kepemimpinan Muawiyah telah mendirikan dinas pos dan tempat-tempat dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan.
·         Menertibkan angkatan bersenjata.
·         Pencetakan mata uang oleh Abdul Malik, mengubah mata uang Byzantium dengan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Mencetak mata uang sendiri tahun 659 M dengan memakai kata dan tulisan Arab.
·         Jabatan khusus bagi seorang Hakim (Qodli) menjadi profesi sendiri .
·         Keberhasilan kholifah Abdul Malik melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan Islam dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Keberhasilannya diikuti oleh putranya Al-Walid Ibnu Abdul Malik (705 – 719 M) yang berkemauan keras dan berkemampuan melaksanakan pembangunan.
·         Membangun panti-panti untuk orang cacat. Dan semua personil yang terlibat dalam kegiatan humanis digaji tetap oleh Negara.
·         Membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya.
·         Membangun pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan, dan masjid-masjid yang megah.
·         Hadirnya Ilmu Bahasa Arab, Nahwu, Sharaf, Balaghah, bayan, badi’, Isti’arah dan sebagainya. Kelahiran ilmu tersebut karena adanya kepentingan orang-orang Luar Arab (Ajam) dalam rangka memahami sumber-sumber Islam (Al-qur’an dan Al-sunnah).
·         Pengembangan di ilmu-ilmu agama, karena dirasa penting bagi penduduk luar jazirah Arab yang sangat memerlukan berbagai penjelasan secara sistematis ataupun secara kronologis tentang Islam. Diantara ilmu-ilmu yang berkembang yakni tafsir, hadis, fiqih, Ushul fiqih, Ilmu Kalam dan Sirah/Tarikh.
IV. KESIMPULAN
Rasulullah bersabda yang artinya “ setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya “. Sesungguhnya memimpin adalah amanah yang tidak mudah untuk diemban, karena untuk menjadi seorang pemimpin kita harus memiliki sifat-sifat yang bisa mencontoh dari sifat rasulullah SAW.
Karenanya pada masa khulafaur rosyidin kita dapat melihat begitu para sahabat masih sangat memegang teguh ajaran-ajaran rasulullah dalam hal memimpin umat islam, namun seiring berjalannya waktu dan situasi umat islam yang berbedam sistem pemerintahan dan gaya para pemimpin dalam memimpin umatnya pun berbeda-beda. Dari mulai kholifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kholifah Umar bin Kotthob, kholifah Utsman bin Affan dan kholifah Ali bin Abi Tholib hingga pemerintahan pada masa Dinasti Bani Umayyah.




V. PENUTUP
Demikian makalah Peradaban Islam Pada Masa Khulafaur Rosyidin dan Bani Umayyah ini kami buat dalam mata kuliah sejarah dan Kebudayaan Islam yang diampu oleh bapak M. Sauki, yang tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Pemakalah sadar bahwa ini merupakan proses dalam menempuh pembelajaran, untuk itu pemakalah mengharapkan kritik serta saran yang membangun demi kesempurnaan makalah kami. Harapan pemakalah semoga makalah ini dapat dijadikan suatu ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Amien.

























Daftar Pustaka

As-Suyuti, Jalaluddin “ Rekam Jejak Para Khalifah “ Pustaka Arahman, 2013
Ismail, Faisal “ Sejarah dan Kebudayaan Islam Dari Zaman Permulaan Hingga Zaman Khulafaurrasyidin” CV. Busana Usaha, 1984
Syalabi, A “ Sejarah dan Kebudayaan Islam 2” Pustaka Alhusna, 1982

Komentar

Postingan Populer