SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DAN BUDAYA LOKAL
PERADABAN ISLAM PADA MASA KHULAFAUR ROSYIDIN DAN BANI UMAYYAH
Dosen Pengampu : M. Sauki, MA
I.
PENDAHULUAN
Sejarah adalah bagaimana suatu peristiwa itu tercatat ataupun
menjadi perbincangan orang banyak sehingga dikenang hingga berkian tahun
lamanya, sejarah mengenai kebudayaan islam itu sendiri sangatlah dalam dan
luas, kaya akan hikmah yang dapat kita ambil dari berbagai aspek untuk kemudian
bisa kita implementasikan dengan kehidupan pada zaman sekarang ini.
Tema besar pada penulisan makalah ini akan lebih banyak menelusuri
akar-akar sejarah pada masa Khulafaur Rosyidin dan Bani Umayyah, karena begitu
banyak nilai-nilai positif yang dapat kita pelajari dan kita teladani, tak
luput pula dalam setiap masa selalu saja ada hal-hal yang dapat kita pelajari
dari kesalahan-kesalahan yang terjadi pada masa itu, mulai dari perbedaan
pendapat antar sahabat, mulai adanya sistem monarki pada masa Daulah Bani
Umayyah dan lain sebagainya, semuanya itu akan kami curahkan dalam penulisan
makalah ini.
Namun fenomena yang cukup menyedihkan saat ini, sudah begitu banyak
muslimin yang mengadopsi budaya-budaya barat, sehingga lambat laun mereka
kurang begitu tahu akan sejarah peradaban islam yang telah membawa kita saat
ini kepada zaman yang penuh akan pencerahan.
Tujuan dari penulisan makalah ini, sebagai penambah wawasan
keislaman dan membawa nuansa sejarah peradaban islam, kembali menyelimuti
jiwa-jiwa kaum muslimin masa kini dan yang akan datang.
II. RUMUSAN MASALAH
1. Pengertian
Khulafaur Rosyidin
2. Mengetahui
Proses Kebijakan Pada Masa Kepemimppinan Khulafaur Rosyidin
3. Pendirian
Dinasti Umayyah
4. Peradaban
Islam Pada Masa Dinasti Bani Umayyah
III. PEMBAHASAN
1. Pengertian Khulafaur Rosyidin
Secara etimologi kata khulafaur rosyidin itu berasal dari bahasa
arab yang terdiri dari kata kholifah yang berarti pemimpin, artian
pemimpin disini ialah orang yang menggantikan kedudukan rasulullah SAW setelah wafatnya,
untuk melindungi agama, tatanan masyarakat dan siasat (politik).
Sedangkan kata arrosyidin itu sendiri berarti arif dan bijaksana.
Jadi kesimpulannya Khulafaur Rosyidin mempunyai arti, pemimpin yang arif dan
bijaksana sesudah wafatnya nabi Muhammad SAW. Mereka itu terdiri dari
sahabat-sahabat nabi Muhammad SAW. Adapun sifat-sifat yang dimiliki Khulafaur
Risyidin ialah sebagai berikut :
1. Arief
dan Bijaksana
2. Mempunyai
ilmu yang luas dan mendalam
3. Berani
bertindak
4. Berkemauan
keras
5. Berwibawa
6. Belas
kasih dan kasih sayang
7. Berilmu
agama yang sangat luat serta melaksanakan hukumnya.
Para sahabat yang
mendapat gelar Khulafaur Rosyidin terdiri dari empat orang kholifah, yaitu :
1. Abu
Bakar Ash-Shiddiq
2. Umar
Bin Khotthob
3. Utsman
Bin Affan
4. Ali
Bin Abi Tholib
Adapun tugas-tugas
sebagai khulafaur rosyidin ialah sebagai berikut :
Nabi Muhammad SAW. Ketika menjadi nabi, tugas beliau adalah
meliputi dua hal, yang pertama ialah tugas kenabian dan yang kedua ialah tugas
kenegaraan. Dan dalam konteks ini tugas para kholifah ialah hanya menggantikan
rasulullah dalam tugas kenegaraan, yaitu sebagai kepala negara, kepala
pemerintahan dan pemimpin ummat. Sedangkan tugas rasulullah sebagai nabi dan
rosul itu tidak digantikan oleh siapapun, karena tugas kenabian yang diemban
oeh beliau ialah tugas khusus yang diamanahkan dari Allah SWT. Di samping iu
pua, karena nabi muhammad SAW, ialah nabi akhir zaman, nabi dan rosul yang
diutus oleh Allah SWT sebagai penutup para nabi-nabi sebelumnya, maka tidak
akan ada nabi atau rosul yang diutus setelah wafatnya beliau. Sebagaimana yang
telah difirmankan oleh Allah SWT Q.S Al-Ahzab : 40.
Ù…َاكَانَ Ù…ُØَÙ…َّدّ ُاَبَاَﺃØَدٍ Ù…ِÙ†ْ رِﺟﺎ
Ù„ِÙƒُÙ… ْÙˆَÙ„َÙƒِÙ†ْ رَسُولَ الَّلهِ ÙˆَØ®َا تَÙ…َ النَّبِÙŠِينَ ÙˆَÙƒَا َÙ†َ الَّلهُ بِÙƒُÙ„
ِّØ´َÙŠْØ¡ٍعَÙ„ِÙ…َ
Artinya:
“ Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia rasulullah dan penutup Nabi-nabi, dan adalah allah adalah maha mengetahui segala sesuatu.”
“ Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia rasulullah dan penutup Nabi-nabi, dan adalah allah adalah maha mengetahui segala sesuatu.”
A. Kholifah
Abu Bakar Ash-Shiddiq
1. Silsilah
dan Kepribadian Abu Bakar Ash-Shiddiq
Nama lengkap dari Abu Bakar ialah Abdulah bin Utsman bin Amir bin
Umar bin Ka’ab bin Tiim bin Mairoh at-Tamimi. Sebelum masuk Islam, nama kecil Abu
Bakar ialah Abdul Ka’bah. Dan gekar Abu Bakar itu pemberian dari rasulullah,
karena beliau segera masuk Islam. Dan juga mendapat gelar As-Shiddiq (yang
membenarkan).
Abu Bakar lahir pada tahun 573 M, dua tahun setelah penyerbuan
pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka’bah yang dipimpin oleh Abrahah dari
Yaman. Dengan demikian baliau dua tahun lebih muda dari nabi Muhammad SAW.
Karena Nabi lahir pada tahun gajah, yaitu 571 M.
Perihal perawakan Abu Bakar, menurut riwayat putrinya, Siti Aisyah
(Ummul Mukminin) bahwa kulitnya putih, badannya kurus, pipinya tipis, mukanya
kurus, matanya cekung, dan keningnya menjorok ke depan. Perihal akhlaqnya,
menurut Ibnu Hisyam beliau terkenal sebagai seorang pemurah, peramah, pandai
bergaul dan suka menolong. Abu Bakar juga mempunyai sifat sabar, berani, tegas,
dan bijaksana. Karena kesabarannya banyak sahabat masuk Islam karena ajakannya,
seperti: Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Saad
bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdullah bin Mas’ud
dan Arqom bin Abil Arqom.
2. Proses
Pembai’atan Sebagai Kholifah
Sebelum Rasulullah meninggal dunia, beliau tidak berwasiat siapa
yang akan menggantikannya sebagai pemimpin umat islam. Hanya saja
sebelum beliau wafat, beliau sempat menyyuruh Abu Bakar untuk menggantikan imam
sholat yang biasanya beliau lakukan. Karena tidak adanya wasiat dari rasulullah,
hal ini menjadi kesibukan tersendiri bagi para sahabat dan umat muslim saat itu
untuk mencari siapa pengganti yang tepat Rasulullah. Karenanya sebelum
terpilihnya abu Bakar sebagai kholifah, sempat terjadi kontraversi diantara
kelompok-kelompok umat muslim terutama dari kalangan anshor dan muhajjirin
untuk menentukan siapa yang pantas memimpin mereka.
Abu Bakar dibai’at sebagai khalifah pertama pada tahun 11 H atau
632 M, setelah ada kesepakatan antara kaum muhajirin dan anshar untuk
membai’atnya, Abu Bakar kemudian berpidato sebagai berikuat:
“Wahai manusia! Saya telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik diantara kalian, maka jika aku menjalankan tugasku denga baik, ikutilah aku. Tetapi jika aku berbuat salah maka luruskanlah, hendaklah kamu taat kepadaku selama aku taat kepada Allah dan rasulnya. Tetapi apabila aku tidak taat kepada Allah dan rasulnya maka kalian tidak perlu menaatiku.
“Wahai manusia! Saya telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik diantara kalian, maka jika aku menjalankan tugasku denga baik, ikutilah aku. Tetapi jika aku berbuat salah maka luruskanlah, hendaklah kamu taat kepadaku selama aku taat kepada Allah dan rasulnya. Tetapi apabila aku tidak taat kepada Allah dan rasulnya maka kalian tidak perlu menaatiku.
3. Langka-laangkah
dan Kebijakan Abu Bakar
a. Menumpas
nabi palsu
Pada saat rasulullah sudah wafat dan kepemimpinan
diamanahkan kepada kholifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, mulai muncul beberapa orang
yang mengaku dirinya adalah nabi setelah nabi Muhammad SAW. Padahal dalam islam
sudah diajarkan, bahwasanya tiada nabi setelah nabi Muhammad SAW, karena beliau
adalah nabi akhir zaman, nabi penutu dari para nabi sebelumnya. Dan beberapa
orang-orang yang mengaku nabi itu ialah Musailamah Al-Kadzab dari bani hanifan
di Yamamah, Sajah Tamimiyah dari bani tamim, Al-Awsad Al-Anshi dari yaman dan
Tulaihah bin Khuwailid dari bani asad di Nejed. Dengan adanya beberapa orang
yang mengaku nabi ini, sungguh sangat akan membahayakan bagi agama islam dan
bai para pemeluknya. Karenanya kholifah Abu Bakkar menugaskan beberapa pasukan
yang dipimpin oleh Kholid bin Walid untuk menumpas nabi palsu tersebut beserta
pengikut-pengikutnya. Dan akhirnya upaya penumpasan itu pun berhasil dengan
sangat gemilang. Musailamah dibunuh oleh Wasyi, Al-Awsad dibunuh oleh istrinya
sendiri, sedangkan Tulaihah dan Sajad melarikan diri dan bersembunyi.
b. Memberantas
kaum murtad
Berita wafatnya rasulullah SWA, berakibat menggoyahkan iman
umat muslim yang pada saat itu masih lemah imannya, begitu banyak di antara
mereka yang menyatakan dirinya keluar dari agama islam (murtad). Mereka tidak
mau lagi sholat, membayar zakat. Lantas dari kejadian tersebut Abu Bakar
beserta para sahabat yang lain bermusyawarah untuk menangani masalah tersebut,
jika tidak bisa ditangani dengan lemah lembut, maka akan ditindak dengan tegas.
Abu Bakar mengirim ekspedisi dibawah pimpinan Ikhrimah bin Abu Jahal, Syurahbil
bin Hasnah, Amru bin Ash, dan khalid bin Walid. Tindakan tegas kaum muslimiin
itu dapat melumpuhkan kekuatan kaum murtad, sehingga mereka kembali mentaati
perintah syariat Islam. Abu Bakar berhasil dalam usaha ini, sehingga wilayah
Islam utuh kembali.
c. Menghadapi
kaum yang ingkar zakat
Pada masa itu masih
banyak juga kaum muslimin yang tingkat keimanannya masih tipis, sehingga mereka
banyak yang salah memahami arti dari membayar zakat itu sendiri, mereka
beranggapan bahwasanya membayar zakat itu hanya untuk nabi, lantas ketika nabi
telah wafat, gugurlah kewajiban mereka untuk mengeluarkan zakat. Kemudian
kholifah Abu Bakar kembali bermusyawarah dengan para sahabat untuk menghadapi
orang-orang yang ingkar zakat tersebut, meskipun ada beberapa sahabat yang
berpendapat untuk membiarkan saja hal itu terjadi, namun Abu Bakar tetap
bersikap bulat menyatakan bahwasanya kewajiban zakat tetap harus dilaksanakan
dan mereka yang membangkang harus diperangi. Awalnya Abu Bakar memperingatkan
mereka secara halus, yakni mengirimi mereka surat untuk kembali kepada jalan
islam yangsudah ditetapkan, akan tetapi mereka tetap membangkan dan akhirnya
Abu Bakar mengirim pasukan untuk memerangi mereka yang ingkar membayar zakat.
Dalam waktu yang relatif singkat pasukan Abu Bakar telah berhasil memerangi
kaum pembangkang dengan gemilang.
Kemudian dengan berhasilnya kaum muslimin ini dalam
memerangi kaum pembangkan, keadaan negeri arab kembali tenang, keadaan agama
islam kembali lurus dam umat islam pun kembali hidup damai dalam naungan
agamanya. Seluruh kabila-kabilah kembali taat untuk mengeluarkan zakat
sebagaimana pada zaman rasulullah.
d. Mengumpulkan
ayat-ayat al-qur’an
Akibata banyaknya peperangan yang dialami oleh kaum
muslimim, banyak dari kalangan sahabat yang hafal al-qur’an berguguran. Dari
kejadian ini menjadi kekhawatiran bagi umat islam dan kecemasan dalam hati Umar
bin Khotthob akan kehilangan ayat-ayat suci al-qur’an itu. Maka kemudian
kecemasan itu Umar nasehatkan kepada kholifah Abu Bakar untuk segera
mengumpulkan ayat-ayat al-qur’an.
Atas saran dari Umar bin Khotthob ini kemudian pada awal 13
H Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan ayat-ayat al-qu’an
menjadi mushaf, mengingat dahulu masih berserakan didalam dada para penghafal,
tertulis dalam batu-batu, pelepah-pelepah pohon, kain dan lain sebagainya.
4. Wafatnya
kholifah Abu Bakar
Pada saat pertempuran di Ajnadain negeri syam berlangsung,
khalifah Abu Bakar menderita sakit. sebelum wafat, beliau telah berwasiat
kepada para sahabatnya, bahwa khalifah pengganti setelah dirinya adalah Umar
bin Khattab. hal ini dilakukan guna menghindari perpecahan diantara kaum
muslimin.
Beberapa saat setelah Abu Bakar wafat, para sahabat langsung mengadakan musyawarah untuk menentukan khalifah selanjutnya. telah disepakati dengan bulat oleh umat Islam bahwa Umar bin Khattab yang menjabat sebagai khalifah kedua setelah Abu Bakar. piagam penetapan itu ditulis sendiri oleh Abu Bakar sebelum wafat. Setelah pemerintahan 2 tahun 3 bulan 10 hari (11 – 13 / 632 – 634 M), khalifah Abu Bakar wafat pada tanggal 21 jumadil Akhir tahun 13 H / 22 Agustus 634 Masehi.
Beberapa saat setelah Abu Bakar wafat, para sahabat langsung mengadakan musyawarah untuk menentukan khalifah selanjutnya. telah disepakati dengan bulat oleh umat Islam bahwa Umar bin Khattab yang menjabat sebagai khalifah kedua setelah Abu Bakar. piagam penetapan itu ditulis sendiri oleh Abu Bakar sebelum wafat. Setelah pemerintahan 2 tahun 3 bulan 10 hari (11 – 13 / 632 – 634 M), khalifah Abu Bakar wafat pada tanggal 21 jumadil Akhir tahun 13 H / 22 Agustus 634 Masehi.
B. Kholifah
Umar bin Khothob
1. Silsilah
dan kepribadian kholifah Umar bin Khotthob
Umar bin khattab lahir di Mekkah pada tahun 583 M, dua belas
tahun lebih muda dari Rasulullah, ayahnya bernama Khattab bin Nufail bin Abd
Uzza bin Riah bin Abdullah bin Qurth bin Rizal bin Abd bin Kaab bin Luayyah.
Sedangkan ibunya bernama Khattamah binti Hisyam bin Mughiroh Al Makhzumi.
Umar juga termasuk kelurga dari keturunan Bani Suku Ady
(Bani Ady). Suku yang sangat terpandang dan berkedudukan tinggi dikalangan orang-orang
Qurais sebelum Islam.
Umar memiliki postur tubuh yang tegap dan kuat, wataknya
keras, pemberani dan tidak mengenal gentar, pandai berkelahi, siapapun musuh
yang berhadapan dengannya akan bertekuk lutut. Ia memiliki kecerdasan yang luar
biasa, mampu memperkirakan hal-hal yang akan terjadi dimasa yang akan datang,
tutur bahasanya halus dan bicaranya fasih. Beberapa keunggulan yang dimiliki
Umar, membuat kedudukannya semakin dihormati dikalangan masyarakat Arab,
sehingga kaum Qurais memberi gelar ”Singa padang pasir”, dan karena kecerdasan
dan kecepatan dalam berfikirnya, ia dijuluki ”Abu Faiz”.
Itulah sebabnya pada saat-saat awal penyiaran Islam,
Rasulullah SAW bedoa kepada Allah, ”Allahumma Aizzul Islam bi Umaraini”
artinya: ”Ya Allah, kuatkanlah Agama Islam dengan salah satu dari dua Umar”
yang dimaksud dua Umar oleh Rasulullah SAW adalah Umar bin Khattab dan Amr bin
Hisyam (nama asli Abu Jahal).
2. Proses
pembai’atan sebagai kholifah
Ketika Abu Bakar merasa dirinya sudah tua dan ajalnya sudah
dekat, yang terlintas difikirannya adalah siapa yang akan menggantikannya
sebagai khalifah kelak. Abu Bakar minta pendapat kepada para tokoh sahabat
seperti Utsman bin Affan, Ali bin Abithalib, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin
Ubaidillah, Usaid bin Khudur. Mereka menyetujui usulan Abu Bakar bahwa Umar bin
Khattab akan diangkat sebagai penggantinya. Setelah Abu Bakar wafat, para
sahabat membai’at Umar sebagai khalifah.
3. Langkah-langkah
dan kebijakan Umar bin Khotthob
Usaha Umar bin Khotthob lebih luas dibandingkan dengan usaha yang
teah dilakukan oleh kholifah Abu Bakar, karena memang selain melanjutkan
ekspansi dan penyiaran islam ke syiria dan persia yang diteruskan ke mesir.
Pada masa kholifah Umar pun, sudah mulai dibentuk dewan-dewan pemerintahan yang
mengatur tatanan masyarakat. Dengan demikian kekholifahan Umar lebih maju
dibandingkan dengan keempat kholifah yang lainnya. Pada masa kholifah Umar bin
Khotthob pun menejemen Baitul Mal kemali dipulihkan dan memiliki menejemen yang
baik untuk kebutuhan masyarakat islam.
4. Wafatnya
Khoifah Umar bin Khotthob
Umar bin Khattab adalah profil seorang pemimpin yang suksek dan
sahabat rasulullah yang sejati. Kesuksesannya dalam mengibarkan panji-panji
Islam mengundang rasa dengki di hati orang yang memusuhinya, salah satunya
adalah Abu Lu’luah.
Abu Lu’luah berhasil membunuh Khalifah Umar ketika beliau siap-siap memulai shalat subuh. Abu Lu’luah merasa dendam kepada Umar karena beliau dianggap sebagai penyebab lennyapnya kerajaan persia di muka bumi. Abu Lu’luah adalah seorang dari bangsa persia. Khalifah Umar pulang ke rahmatullah pada tanggal 26 Dzul Hijjah 23 H/3 November 644 M dalam usia 63 tahun. Beliau memegang amanat sebagai khalifah selama 10 tahun 6 bulan (13-23 H=634-644 M). Atas persetujuan Siti Aisyah istri rasulullah Jenazah beliau dimakamkan berjajar dengan makam Rasulullah dan makam Abu Bakar. Demikianlah riwayat seorang khalifah yang bijaksana itu dengan meninggalkan jasa-jasa besar yang wajib kita lanjutkan.
Abu Lu’luah berhasil membunuh Khalifah Umar ketika beliau siap-siap memulai shalat subuh. Abu Lu’luah merasa dendam kepada Umar karena beliau dianggap sebagai penyebab lennyapnya kerajaan persia di muka bumi. Abu Lu’luah adalah seorang dari bangsa persia. Khalifah Umar pulang ke rahmatullah pada tanggal 26 Dzul Hijjah 23 H/3 November 644 M dalam usia 63 tahun. Beliau memegang amanat sebagai khalifah selama 10 tahun 6 bulan (13-23 H=634-644 M). Atas persetujuan Siti Aisyah istri rasulullah Jenazah beliau dimakamkan berjajar dengan makam Rasulullah dan makam Abu Bakar. Demikianlah riwayat seorang khalifah yang bijaksana itu dengan meninggalkan jasa-jasa besar yang wajib kita lanjutkan.
C. Kholifah
Utsman bin Affan
1. Silsilah
dan kepribadian Utsman bin affan
Utsman bin dilahirkan 5 tahun setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Yaitu pada 576 M di kota thoif, kota yang palinga subur di antara kota–kota
lainnya di tanah hijaz. Utsman seorang saudagar yang berhasil karena tekun
lemah lembut dan pemurah. Sejak usia belia dia sudah berniaga ke Negeri syam,
daerah jajahan Romawi. Keahliannya berdagang berkat didikan ayahnya sendiri,
sehingga menjadi seorang saudagar kaya.
Setelah menginjak dewasa, Utsman menjadi saudagar yang kaya,
dermawan, berbudi luhur, bersikap jujur, dan teguh hati serta berprasangka
halus. Dengan pribadi yang demikian Utsman termasuk orang yang mempunyai
kedudukan yang terhormat di dalam kaum Quraisy.
Sifat mulia Utsman meningkat setelah ia memeluk agama Islam. Sewaktu
nabi kekurangan dana dalam perang tabuk (9H=631M) melawan pasukan Byzantium
(Romawi timur) Abu Bakar menyerahkan seluruh hartanya (40.000 dirham), Umar bin
Khattab menyerahkan separuh hartanya, Asmi bin Abdi menyumbangkan 70 goni
kurma, Utsman bin Affan menanggung 1/3 dari keseluruhan biaya pasukan besar itu
dengan menyerahkan 90 ekor kuda, serta uang tunai 1.000 dinar = 10.000 dirham.
2. Proses
pembai’atan sebagai kholifah
Sebelum khalifah Umar wafat, beliau sempat berwasiat dan menunjuk
tim yang terdiri dari 6 orang sahabat terkemuka, sekaligus telah dijamin nabi
masuk surga, sebagai calon ganti kekhalifaannya.
Keenam orang tersebut adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqos. Kepada tim, Umar menganjurkan agar putranya, Abdullah bin Umar ikut sebagai peserta musyawarah dan tidak boleh dipilih menjadi khalifah. Awalnya hasil musyawarah yang diketuai oleh Abdurrahman bin Auf menunjukkan bahwa suara pada posisi seimbang, antara Ali dan Utsman. Karena Utsman lebih tua, Abdurrahman menetapkan Utsman bin Affan sebagai khalifah.
Ketetapan itu disetujui oleh anggota tim dengan berbagai pertimbangan yang matang. Disamping Utsman sebagai salah seorang sahabat yang terdekat dengan Nabi, beliau juga seorang Assabiqunal Awwalun yang terkenal kaya dan dermawan, jiwa dan hartanya dikorbankan demi kejayaan Islam. Utsman bin Affan dibaiat sebagai khalifah pada tahun 23 H/644 M.
Keenam orang tersebut adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqos. Kepada tim, Umar menganjurkan agar putranya, Abdullah bin Umar ikut sebagai peserta musyawarah dan tidak boleh dipilih menjadi khalifah. Awalnya hasil musyawarah yang diketuai oleh Abdurrahman bin Auf menunjukkan bahwa suara pada posisi seimbang, antara Ali dan Utsman. Karena Utsman lebih tua, Abdurrahman menetapkan Utsman bin Affan sebagai khalifah.
Ketetapan itu disetujui oleh anggota tim dengan berbagai pertimbangan yang matang. Disamping Utsman sebagai salah seorang sahabat yang terdekat dengan Nabi, beliau juga seorang Assabiqunal Awwalun yang terkenal kaya dan dermawan, jiwa dan hartanya dikorbankan demi kejayaan Islam. Utsman bin Affan dibaiat sebagai khalifah pada tahun 23 H/644 M.
3. Langkah-langkan
dan kebijakan Utsman bin Affan
Pada masa Utsman terjadi perluasan wilayah kekuasaan Islam sampai
pada wilayah Afrika. Asia dan Eropa. Kaum muslimin terpencar ke wilayah-wilayah
kekuasaan Islam tersebut. Karena mereka berasal dari berbagai bangsa yang
berbeda, maka sering terjadi perbedaan dalam membaca Al-Qur’an, keadaan ini
mendorong perlunya satu jenis Al-Qur’an yang dijadikan pedoman untuk semua kaum
muslimin. Untuk maksud tersebut Khalifah Utsman akan membukukan dan menggandakan
Al-Qur’an. Lembaran-lembaran ayat Al-Qur’an yang telah dikumpulakan pada masa
Abu Bakar dan disimpan oleh Hafsah, diminta oleh Utsman. Ia kemudian membentuk
panitia penulisan kembali ayat Al-Qur’an, yang terdiri dari Zaid bin Tsabit
sebagai ketua, dengan anggota: Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin Ash, dan
Abdurrahman bin Harits.
Tugas panitia ini adalah menyalin kembali lembaran-lembaran buku
Al-Qur’an yang telah telah menjadi buku ini disebut Al-Mushaf. Panitia
menggandakan sebanyak 5 buah. Empat diantaranya dikirim ke Mekkah, Syiria,
Basrah, dan Kufah. Sedang satu buah ditinggal di Madinah, yang disebut Mushaf Utsmani
atau Mushah Al-Imami.
4. Wafatnya
kholifah Utsman bin Affan
Khalifah Utsman bin Affan banyak mengambil keluarganya dari
kalangan bani Umayyah untuk menduduki pemerintahan. Pengawasan pada pejabat
yang kurang. Khalifah Utsman umurnya telah lanjut, sehingga pengaturan
pemerintahan hanya dilakukan oleh pembantu-pembantu dekat dan familinya
sendiri.
Keluhan masyarakat tidak disampaikan kepada Khalifah. Keadaan ini
menimbulkan keresahan dan protes dari masyarakat Mesir dan Kufah. Mereka datang
ke Madinah untuk menyampaikan protes mereka. Sebagian masyarakat Madinah juga
ikut bergabung dengan mereka, karena kurang mendapat perhatian yang memuaskan,
protes itu berubah menjadi pemberontakan.
Suasana yang panas ini dimanfaatkan oleh Abdullah bin Saba’
(munafiq Yahudi) untuk meniupkan fitnah dan mengobarkan permusuhan dikalangan
umat Islam. Ahirnya Hamran bin Sadan Asy Syaqie menyelinap ke ruang khusus
rumah Utsman. Kemudian menikamnya dari
belakang, ketika Usman sedang berpuasa dan tengah menela’ah kandungan isi
Al-Qur’an.
Peristiwa itu terjadi pada 18 Dzulhijjah 34 H (656 M). Utsman
menjadi khalifah selama 12 tahun, dan wafat dalam usia 82 tahun. Sifatnya yang lemah
lembut dan berhati sosial telah meninggalkan jasa yang tidak sedikit untuk
kepentingan Islam.
D. Kholifah
Ali bin Abi Tholib
1. Silsilah
dan kepribadian Ali bin Abi Tholib
Ali bin Abi Tholib lahir pada tahun 603 M di samping ka’bah kota
Mekkah, lebih muda 32 tahun dari Nabi Muhammad SAW. Ali termasuk keturunan Bani
Hasyim.
Abu Tholib memberi nama Ali dengan Haidarah, mengenang kakeknya
yang bernama Asad. Haidarah dan Asad dalam Bahasa Arab artinya singa. Sedang
Nabi Muhammad memberi nama “ALI” yang menakutkan musuh-musuhnya. Pada usia 6
tahun, Ali bin Abi Tholib diasuh oleh Nabi Muhammad sebagaimana Nabi diasuh
oleh ayahnya, Abu tholib. Karena mendapat didikan dan asuhan langsung dari Nabi
Muhammad SAW, maka Ali tumbuh sebagai anak yang berbudi luhur, cerdik,
pemberani, pintar dalam berbicara dan berpengetahuan luas.
2. Proses
pembai’atan sebagai kholifah
Setelah wafatnya Utsman bin Affan, keadaan tetap menegangkan.
Kelompok-kelompok masih berkeliaran di Madinah. Para pemuda menghendaki agar
Ali segera menggantinya, namun dengan sopan Ali menolak permintaan itu. Ali
menganggap bahwa pengangkatan khalifah adalah masalah yang sangat penting
karena itu, masalah ini memerluakn dukungan para sahabat yang dahulu berjuang
bersama Nabi SAW dalam perang badar. Ali menyatakan: “Mana pahlawan Badar
seperti Zubair bin Awwan, Tholhah bin Ubaidillah dan Sa’ad.” Mendengar hal itu
kaum muslimin mengajak Zubair, Thalhah dan Sa’ad bersama-sama membaiat Ali bin
Abi Tholib sebagai khalifah. Awalnya mereka tidak setuju dengan pembai’atan
tersebut, namun pada akhirnya mereka mau memba’at Ali sebagai kholifah dan
terjadilah pembai’atan Ali sebagai khalifah bagi umat Islam.
3. Langkah-langkah
dan kebijakan Ali bin Abi Tholib
Dalam periode khalifah Abu Bakar dan Umar, kehidupan masyarakat
masih dalam taraf kesederhanaan seperti periode Nabi Muhammad SAW. Rakyat masih
bersatu padu dan kokoh dibawah ikatan tali persaudaraan Islam. Mereka selalu
kompak dalam semangat jihad yang ikhlas demi kelulusan agama Islam. Keadaan ini
mulai berubah sejak periode Khalifah Utsman bin Affan. Mereka mulai terpengaruh
oleh hal-hal yang bersifat duniawi, apalagi saat gubernur yang diangkat
Khalifah Utsman banyak yang tidak mampu memimpin umat dan tidak disenangi
masyarakat. Oleh karena itu khalifah Ali bin Abi Tholib menanggung beban yang
berat dalam memimpin kaum muslimin dengan wilayah kekuasaan yang semakin
meluas. Akhirnya tanah yang dahulu diberikan cuma-Cuma pada masa Utsman diambil
kembali oleh kholifah Ali bin Abi Tholib, selain itu ada pergantian para
gubernur yang dahulu banyak diduduki oleh famili dari Utsman.
4. Wafatnya
kholifah Ali bin Abi Tholib
Kaum Khawarij tidak lagi mempercayai kebenaran pemimpin-pemimpin
Isalam, dan mereka berpendapat bahwa pangkal kekacauan Islam pada saat itu
adalah karena adanya 3 orang imam, yaitu Ali, Muawiyah dan Amr. Kemudian kaum
Khawarij membulatkan tekadnya, “tiga orang imam itu harus dibunuh dalam satu
saat, bila hal itu tercapai umat Islam akan bersatu kembali”. Demikian tekad
mereka. “Saya membunuh Ali”, kata Abdurrahman bin Muljam, “Saya membunuh Muawiyah”,
sambut Barak bin Abdullah Attamimi, “Dan saya membunuh Amr”, demikian kesanggupan
Amr bin Bakr Attamimi. Mereka bersumpah akan melaksanakan pembunuhan pada
tanggal 17 Ramadhan 40 H/24 Januari 661 M diwaktu subuh. Di antara tiga orang
Khawarij tiu. Hanya Ibnu Muljam yang berhasil membunuh Ali ketika beliau sedang
sholat Subuh di Masjid Kufah tetapi Ibnu Muljam pun tertangkap dan juga
dibunuh.
Barak menikam Muawiyah mengenai punggungnya, ketika Muawiyah sedang sholat Subuh di Masjid Damaskus. Sedang Amr bin Bakr berhasil membunuh wakil imam Amr bin Ash ketika ia sedang sholat Subuh di masjid Fusthat Mesir. Amr bin sendiri tidak mengimami sholat, sedang sakit perut di rumah kediamannya sehingga ia selamat.
Barak menikam Muawiyah mengenai punggungnya, ketika Muawiyah sedang sholat Subuh di Masjid Damaskus. Sedang Amr bin Bakr berhasil membunuh wakil imam Amr bin Ash ketika ia sedang sholat Subuh di masjid Fusthat Mesir. Amr bin sendiri tidak mengimami sholat, sedang sakit perut di rumah kediamannya sehingga ia selamat.
Khalifah Ali wafat dalam usia 58 tahun, kemudian Hasan bin Ali
dinobatkan menjadi Khalifah yang berkedudukan di Kufah.
2. Dinasti
Bani Umayyah
A. Awal
pendirian dinasti bani Umayyah
Proses awal berdirinya dinasti bani Umayyah ialah ketika
wafatnya kholifah Utsman bin Affan yang terbunuh karena ditikam oleh Huran bin
Sudan, hal ini terjadi karena kholifah Utsman bin Affan dianggap telah berlaku
nepotisme dalam menjalankan tugas kekholifahan.
Lalu kemudian dengan wafatnya kholifah Utsman bin Affan ini
para sahabat yang telah bermusyawarah mendatangi Ali bin Abi Tholib untuk
meminta dirinya menjadi kholifah pengganti Utsman, setelah dipertimbangkan
dengan matang-matang akhirnya Ali bin Abi Tholib pun menyetujui permintaan itu.
Namun disaat-saat pembaiatan Ali bin Abi Tholib menjadi kholifah, ada sahabat
yang tidak menerima dan mau membai’at Ali bin Abi Tholib sebagai kholifah, ia
adalah Muawiyah binAbi Sufyan. Muawiyah beranggapan bahwasanya ingin
menuntaskan sebab kematian kholifah Utsman terlebih dahulu, begitu pula dengan
Aisyah bin Abu Bakar, istri rasulullah inginnya menyelesaikan perihal
terbunuhnya Utsman bin Affan.
Namun pembaiatan itu tetap dilaksanakan, hingga pada
akhirnya golongan kaum bani umayyah yang di bawah pimpinan Muawiyah bin Abi
Sufyan datang sebagai pembrontak kekholifahan Ali bin Abi Tholib. Kemudian
setelah wafatnya Ali bin Abi Tholib yang dibunuh oleh Abdurahman bin Muljam
salah seorang dari golongan khowarij. Atas kejadian ini menimbulkan dampak
politii yang cukup kuat dikalangan umat islam, khususnya bagi mereka yang setia
terhadap Ali atau yang sering disebut kaum syi’ah, langsung membaiat Hasan
putra Ali untuk menjadi kholifah sebagai pengganti ayahnya. Proses pembaiatan
ini di saksikan oleh 40.000 orang, orang yang pertama kali mengangkat sumpah
setia adalah Qays bin Sa’ad, kemudian
diikuti oleh umat islam pendukung setia Ali bi Abi Tholib lainnya.
Namun pengangkatan Hasan ini tetap saja tidak mendapatkan
pengakuan dari Muawiyah bin Abi Sufyan dan para pendukungnya. Dimana Muawiyah
yang pada saat itu menjadi gubernur di Damaskus juga menobatkan dirinya sebagai
kholifah. Hal ini disebabkan karena sejak lama Muawiyah berambisi untuk bisa
mempunyai kedudukan tertinggi dalam dunia islam. Namun karena Hasan adalah
sosok yang lembut dan lemah dalam hal politik, ia hanya tidak begitu ambisius
untuk menjadi pimpinan tertinggi umat islam, ia hanya menginginkan persatuan
umat islam. Hal ini dimanfaatkan oleh Muawiyah untuk mempengaruhi umat supaya
tidak melakukan baiat terhadap Hasan bin Ali. Seingga banyak terjadi
pembrontakan-pembrontakan yang didalangi oleh Muawiyah. Oleh karena itu Hasan
melakukan kesepakatan damai dengan golongan Muawiyah dan menyerahkan
kekuasaannya pada Muawwiah bin Abi Sufyan pada bulan Rabiul Awwal 41 H./661 M.
Tahun kesepakatan antara Hasan dan Muawiyah ini disebut Aam Jama’ah karena
umat muslim sepakat untuk memilih satu pemimpin saja, yaitu Muawiyah bin Abi
Sufyan.
Dalam kondisi yang sanagat kacau itu, kholifah Hasan tidak
mempunyai pilihan lain selain untuk bermusyawarah dengan pihak Muawiyah dan
menyerahkan segala kekuasaannya, namun dengan syarat sebagai berikut :
1. Muawiyah menyerahkan harat Baitul mal
kepadanya untuk melunasi hutang-hutangnya kepada pihak lain.
2. Muawiyah tak lagi melakukan cacian dan
hinaan terhadap khalifah Ali bin Abi Thalib beserta keluarganya.
3. Muawiyah menyerahkan pajak bumi dari Persia
dan daerah dari Bijinad kepada Hasan setiap tahun.
4. Setelah Muawiyah berkuasa nanti, maka
masalah kepemimpinan (kekhalifahan) harus diserahkan kepada umat Islam untuk
melakukan pemilihan kembali pemimpin umat Islam.
5. Muawiyah tidak boleh menarik sesuatupun
dari penduduk Madinah, Hijaz, dan Irak. Karena hal itu telah menjadi kebijakan
khalifah Ali bin Abi Thalib sebelumnya.
Dengan demikian berdirilah dinasti baru yaitu Dinasti Bani Umayyah
(661-750 M) yang mengubah gaya kepemimpinannya dengan cara meniru gaya
kepemimpinan raja-raja Persia dan Romawi berupa peralihan kekuasaan kepada
anak-anaknya secara turun temurun (Monarchi). Keadaan ini yang menandai
berakhirnya sistem pemerintahan khalifah yang didasari asas “demokrasi” untuk
menentukan pemimpin umat Islam yang menjadi pilihan mereka. Pada masa kekuasaan
Bani umayyah ibukota Negara dipindahkan Muawiyah dari Madinah ke Damaskus,
tempat Ia berkuasa Sebagai gubernur Sebelumnya.
B. Kebijakan-kebijakan
pada masa dinasti bani Umayyah
Gaya dan corak kepemimpinan yang dilakukan oleh bani umayyah
sangat berbeda sekali dengan gaya para khulafaur rosyidin saat menjadi kholifah
umat muslim, gaya kepemiminan bani umayyah dalam memimpin pemerintahan
mengguakan sistem Monarchi Heredities, sedangkan saat pemerintahan khulafaur
rosyidin masih menggunakan sistem demokrasi.
Pada masa bani umayyah pun posisi Baitul Mal yang biasanya
digunakan untuk kepentingan rakyat, pada saat itu digunakan untuk kepentingan
keluarga raja.
Adapun kebijakan-kebijakan pada masa dinasti bani umayyah
ialah sebagai berikut :
Dinasti Umayyah telah
mampu membentuk perdaban yang kontemporer dimasanya, baik dalam tatanan sosial,
politik, ekonomi dan teknologi. Berikut Prestasi bagi peradaban Islam dimasa
kekuasaan Bani Umayah didalam pembangunan berbagai bidang antara lain:
·
Masa kepemimpinan Muawiyah telah mendirikan
dinas pos dan tempat-tempat dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan
peralatannya di sepanjang jalan.
·
Menertibkan angkatan bersenjata.
·
Pencetakan mata uang oleh Abdul Malik,
mengubah mata uang Byzantium dengan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang
dikuasai Islam. Mencetak mata uang sendiri tahun 659 M dengan memakai kata dan
tulisan Arab.
·
Jabatan khusus bagi seorang Hakim (Qodli)
menjadi profesi sendiri .
·
Keberhasilan kholifah Abdul Malik
melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan Islam dan
memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam.
Keberhasilannya diikuti oleh putranya Al-Walid Ibnu Abdul Malik (705 – 719 M)
yang berkemauan keras dan berkemampuan melaksanakan pembangunan.
·
Membangun panti-panti untuk orang
cacat. Dan semua personil yang terlibat dalam kegiatan humanis digaji tetap
oleh Negara.
·
Membangun jalan-jalan raya yang
menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya.
·
Membangun pabrik-pabrik, gedung-gedung
pemerintahan, dan masjid-masjid yang megah.
·
Hadirnya Ilmu Bahasa Arab, Nahwu,
Sharaf, Balaghah, bayan, badi’, Isti’arah dan sebagainya. Kelahiran ilmu
tersebut karena adanya kepentingan orang-orang Luar Arab (Ajam) dalam rangka
memahami sumber-sumber Islam (Al-qur’an dan Al-sunnah).
·
Pengembangan di ilmu-ilmu agama, karena
dirasa penting bagi penduduk luar jazirah Arab yang sangat memerlukan berbagai
penjelasan secara sistematis ataupun secara kronologis tentang Islam. Diantara
ilmu-ilmu yang berkembang yakni tafsir, hadis, fiqih, Ushul fiqih, Ilmu Kalam
dan Sirah/Tarikh.
IV. KESIMPULAN
Rasulullah bersabda yang artinya “ setiap dari kalian adalah
pemimpin, dan setiap dari kalian akan bertanggung jawab atas apa yang
dipimpinnya “. Sesungguhnya memimpin adalah amanah yang tidak mudah untuk
diemban, karena untuk menjadi seorang pemimpin kita harus memiliki sifat-sifat
yang bisa mencontoh dari sifat rasulullah SAW.
Karenanya pada masa khulafaur rosyidin kita dapat melihat begitu
para sahabat masih sangat memegang teguh ajaran-ajaran rasulullah dalam hal
memimpin umat islam, namun seiring berjalannya waktu dan situasi umat islam
yang berbedam sistem pemerintahan dan gaya para pemimpin dalam memimpin umatnya
pun berbeda-beda. Dari mulai kholifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kholifah Umar bin
Kotthob, kholifah Utsman bin Affan dan kholifah Ali bin Abi Tholib hingga
pemerintahan pada masa Dinasti Bani Umayyah.
V. PENUTUP
Demikian makalah Peradaban Islam Pada Masa Khulafaur Rosyidin dan
Bani Umayyah ini kami buat dalam mata kuliah sejarah dan Kebudayaan Islam yang
diampu oleh bapak M. Sauki, yang tentunya masih jauh dari kesempurnaan.
Pemakalah sadar bahwa ini merupakan proses dalam menempuh pembelajaran, untuk
itu pemakalah mengharapkan kritik serta saran yang membangun demi kesempurnaan
makalah kami. Harapan pemakalah semoga makalah ini dapat dijadikan suatu ilmu
yang bermanfaat bagi kita semua. Amien.
Daftar Pustaka
As-Suyuti, Jalaluddin “ Rekam Jejak
Para Khalifah “ Pustaka Arahman, 2013
Ismail, Faisal “ Sejarah dan Kebudayaan
Islam Dari Zaman Permulaan Hingga Zaman Khulafaurrasyidin” CV. Busana
Usaha, 1984
Syalabi, A “ Sejarah dan Kebudayaan Islam 2”
Pustaka Alhusna, 1982

Komentar
Posting Komentar